Iklan Adsense

Tuesday, February 6, 2024

Tambo Adat Kenagarian Kapelgam

 

Adapun menurut waris yang dijawat pusaka yang ditolong dari ninik mamak yang dahulu, berangkat ninik yang bertiga dari ranah Kubung Tiga Belas atau koto nan tigo yaitu Kinari, Muaro Paneh dan Koto Anau. Ketiga ninik tersebut adalah Ninik nan Bagajabiang suku Malayu, Ninik nan Bakupiah Ameh suku Tanjuang dan Ninik nan Kiramat suku Caniago. Ketiga ninik tersebut berangkat bersama kaumnya beberapa pasang keluarga disertai dengan pangulu, orang tua dan empat orang Malin menuju lembah Bayang sekarang.
Awalnya mereka mendaki Bukit Kambut, terus menurun ke Danau Atas dan Danau Bawah, lanjut ke menapaki lereng menuju Rawang Silimau lalu mereka mendaki sebuah bukit. Dari atas bukit itu mereka memandang ke arah kanan, tampak asap orang memarun (membakar lahan perladangan), itulah lembah Koto Sebelah Tarusan sekarang. Artinya lembah Tarusan sudah dihuni orang.
Karena lembah itu sudah dihuni orang maka rombongan tersebut mengarahkan perjalanannya menuju lembah sebelah kiri, maka tibalah mereka di sebuah bukit karang yang kemudian disebut Bukit Paninjauan. Dari bukit itu tampaklah oleh mereka sebuah lembah yang datar di tepi lautan yang ditumbuhi oleh rumput dan ilalang yang sudah menguning karena musim kemarau. Bukit karang tersebut disebut pula Bukit Karang Caliak karena di bukit itu mereka melihat bayangan madi menguning.
Kemudian sampailah rombongan tersebut di Koto Ranah sekarang. Maka delapan orang pangulu bersama empat orang Malin dipimpin oleh seorang pemangku raja diminta untuk tinggal disana.
Sisa rombongan melanjutkan perjalanan menuruni perbukitan tersebut. Sampailah mereka ke Lubuk Silau. Kemudian mereka mendirikan tempat tinggal di daerah Kubang dan Lubuk Taban. Maka mulai dari sana diperintahkan oleh Ninik nan bertiga tujuh orang pangulu beserta orang tua, peti adat dan empat orang Malin untuk membentuk dusun. Maka Imam Mangkudun sebagai pemimpin malin yang berempat berkedudukan di Kubang Koto Baru.

Kemudian ninik yang bertiga kembali ke Kubung Tiga Belas. Setelah itu datang pula para pangulu andiko bersama kaumnya.

Di Pululpulut Koto Ranah ada tiga tua jorong yaitu Rajo Nan Gadang, Pamuncak Rajo dan Rajo Lelo dibantu oleh sudut nan empat yaitu rajo bandaro, rajo labiah, rajo kuaso dan bandaro sati.

Sedangkan di Bayang nan tujuh koto ada tujuh pangulu pertama. Pangulu yang bermukim di Kapencong (kemudian bernama Kapencong Lubuk Gambir) adalah Datuk Kayo dari korong Sikumbang suku Tanjuang, tinggalnya di tepian Batang Bayang Sani, sedangkan korong Guci tinggal di Belukar Koto Tuo di tepian Batang Bayang di kaki Bukit Nibung dekat sebuah lubuk yang tanahnya bergetah seperti gambir.

Setelah itu barulah datang rombongan Pangulu nan dua belas bersama kaumnya masing-masing. Mereka yang turun ke Kapencong Lubuak Gambir adalah kaum Rajo Bandaro suku Jambak ke Lubuk Gambir, kaum Rajo Intan suku Tanjuang, kaum Rajo Alam suku Caniago ke Lubuk Gambir dan kaum Rajo Mole suku Malayu ke Kapencong. Mereka semua berasal dari Muaro Paneh.

Sesudah itu datang pula rombongan pangulu andiko ke Kapencong Lubuk Gambir yaitu kaum Tandilangik korong Guci suku Tanjuang, kaum Rajo Intan korong Koto suku Tanjuang, kaum Marajo Indo suku Tanjuang, kaum Datuk Kayo korong Sikumbang, kaum Sari Mole korong Bendang, kaum Datuk Basa suku Malayu, kaum Bandaro Itam korong Panai, kaum Bandaro Sati suku Caniago dan kaum Panduko Bandaro suku Jambak.

Maka menjadi ramailah koto Kapencong Lubuk Gambir. Daerah antara dua sungai sudah ramai dihuni oleh rombongan penghijrah dari berbagai asal usul.

Sesudah itu barulah datang rombongan Pangulu Pucuk nan batigo yaitu kaum Rajo Pangulu dari Muaro Paneh (bermukim disamping korong caniago Rajo Alam). Mereka datang bersama kaum Rajo Alam suku Tanjuang dari Kinari bermukim di Kapujan dan kaum Datuk Batuah suku Caniago asal Koto Anau bermukim di Talaok.

Demikianlah hingga kemudian terbentuk susunan adat di Kenagarian Kapelgam seperti saat ini dengan banyaknya diangkat pangulu-pangulu baru dan banyak pula gelar pangulu yang dilipat (balipek).

Catatan:
Peristiwa migrasi ini diperkirakan terjadi pada pengujung abad 16, ketika Portugis sudah berhasil diusir dan dibantai di pesisir Banda Sapulua Lamo (kawasan Mandeh Sungai Nyalo sekarang). Sebelum kedatangan Portugis (Sipatokah) sudah ramai penduduk menghuni pesisir sepanjang dari Bungus Teluk Kabung hingga Salido. Setelah kedatangan Portugis negeri-negeri di pesisir ini menjadi kosong, penduduknya banyak yang mengungsi ke Darek (Kubuang XIII). Setelah pesisir aman, barulah penduduk Kubuang XIII (Guguk) kembali merintis kembali perkampungan di sepanjang Batang Tarusan (lanjutan Batang Barus) mendirikan Koto Sabaleh. Begitu pula persekutuan koto nan tigo (Kinari, Koto Anau dan Muaro Paneh) bersepakat untuk merintis pemukiman baru di lembah Bayang arah ke Salido, mendirikan Koto Limo Baleh. Sebagian mereka bermukim di Lumpo sekarang. Dari fihak Kinari ada yang bermukim di Salido dan ikut mendirikan koto Pinang (Painan sekarang) bersama penghijrah dari Sungai Pagu dan Pariaman.

Ditulis oleh:
Syafroni Malin Marajo

Paradoksnya Dunsanak Anjing

 

Saat ini di zaman now sudah mulai agak janggal atau dianggap kasar istilah yang satu ini lantaran ada kata-kata “anjing” nya. Kadang-kadang orang tua suka menyebut kata “wowouk” saja untuk hewan anjing padahal kosakata anjing sudah lama dikenal di masyarakat kita tapi entah kenapa akhir-akhir ini menjadi agak kasar atau berpantang mengucapkan kata “anjing” tersebut. Dalam bahasa Jawa, anjing disebut “asu” dan sering kata “asu” ini menjadi kosakata umpatan dan makian dalam masyarakat Jawa. Entah apa salahnya si asu atau si anjing ini, padahal ada banyak kisah dan sejarah dalam dunia peranjingan ini.

Dalam al Quran sendiri nama hewan anjing beberapa kali disebut, misalnya dalam surat al Kahfi tentang anjing piaraan para pemuda Ashabul Kahfi, dimana anjing tersebut menjaga pintu gua tempat para pemuda tertidur selama 309 tahun dan keberadaan anjing tersebut diabadikan oleh Allah dalam kitab sucinya. Begitu pula ketika al Quran menyebutkan tentang anjing yang terlatih (dalam bahasa Arab disebut Kalbun Muta’allam yang orang Minang menyebutnya Anjiang Mualim – nanti kita bahas di topik berikutnya) dimana hasil buruan anjing terlatih halal untuk dimakan. Dalam hadits Nabi, hewan anjing juga sering disebut-sebut terkait anjing yang diselamatkan oleh seorang wanita tunasusila yang akhirnya akan menyelamatkan wanita tersebut kedalam surga dan perihal najisnya air liur anjing sehingga barang-barang atau anggota badan yang terkena liur anjing harus disamak atau dibasuh tujuh kali dengan tanah.

Begitu pula dalam budaya Nusantara dan cerita rakyat terkait anjing, misalnya dalam kisah Sangkuriang dimana ayah Sangkuriang menyamar sebagai hewan anjing bernama Si Tumang atau dalam kisah legenda atau mitos nenek moyang suku Nias dan lain sebagainya. Begitu pula dalam budaya Minang, tersebut seorang tokoh leluhur bernama atau bergelar Anjing Mualim bersama tiga tokoh lainnya yang sezaman.

Anjing Mualim (The Learned Dog)

 

Apakah anda pernah mendengar nama Anjing Mualim? Apakah anda familiar dengan istilah Mualim? Kalau hewan bernama anjing tentu anda sangat mengenal kan?

Anjing Mualim bukanlah sembarang anjing tapi ia adalah anjing khusus atau anjing istimewa. Anjing Mualim bisa diartikan sebagai anjing yang menemani atau menyertai seorang mualim. Lalu apa pula itu Mualim?


 

Mualim sudah lama menjadi istilah dalam dunia pelayaran, tentunya dunia pelayaran yang biasa dilakoni oleh dunia Islam karena kosakata Mualim itu sendiri berasal dari bahasa Arab. Dalam dunia pelayaran, mualim adalah sebutan untuk anak buah kapal atau bawahan atau pendamping nakhoda kapal. Dalam historiologi Minangkabau, istilah Mualim sudah berubah pengucapannya menjadi Malin tapi karena Tambo merupakan bahasa bertulis maka istilah Mualim juga masih lestari dan istilah Anjiang Mualim tidak berubah menjadi Anjiang Malin.

Dalam Tambo Alam Minangkabau, nama Anjiang Mualim disebut berbarengan dengan tiga tokoh lainnya yaitu Kuciang Siam, Harimau Campo (Harimau Champa) dan Kambiang Utan (Kambing Hutan). Keempat tokoh dikaitkan dengan kisah pelayaran tokoh sentra bergelar Sri Maharaja Diraja menuju Minangkabau (Luhak Nan Tigo, tepatnya sekitar lereng Gunung Marapi). Kalau diperhatikan, dua diantara empat nama tersebut dikaitkan dengan negeri asalnya yaitu Siam (Thailand sekarang) dan Champa (Vietnam sekarang). Sedangkan Kambing Hutan dikaitkan dengan salah satu jenis kambing yaitu kambing yang biasa berada di lereng-lereng bukit batu yang terjal. Begitu pula Anjing Mualim dikaitkan dengan salah satu jenis anjing yang dimiliki secara khusus oleh para Navigator di lautan.

Apakah nama Anjing Mualim bukan suatu nama yang aneh dan rancu?

Kedengarannya cukup aneh juga, seorang mualim yang hidupnya sehari-hari mengarungi lautan kok malah memelihara anjing yang merupakan hewan pemburu. Maka disinilah letak keistimewaan hewan tersebut. Muncul pertanyaan, apa gunanya seorang mualim membawa anjing mengarungi lautan? Anjing herder biasanya dipelihara oleh para polisi untuk melacak keberadaan pelaku kriminal atau untuk mengendus bahan-bahan berbahaya, maka anjing tersebut pun disebut anjing pelacak. Anjing sebagai penunjuk arah di hutan masih masuk akal tapi anjing di lautan untuk apa? Apakah ada kemungkinan makna lain dari anjing mualim?

Dunia pelayaran Minangkabau kuno

Nama Mualim membawa kita pada zaman pelayaran kuno. Tentunya hal ini berlaku pada zaman sebelum leluhur Minang membangun peradaban dan kebudayaan di pedalaman, di lereng Gunung Marapi. Nenek moyang Minangkabau berlayar dari arah Gujarat atau dari Mesir menuju pesisir timur anak benua India lanjut menyisiri pesisir teluk Andaman hingga perairan barat Siam lalu masuk ke selat Malaka (tentunya sebelum bernama selat Malaka) kemudian terus ke selat Sunda atau ke utara ke Guang Zhou atau pesisir timur Champa (sebelum direbut Dai Viet). Sebagian pelayaran mungkin melalui perairan barat Aceh terus ke pesisir barat Minangkabau sekarang kemudian terus ke Lampung dan Selat Sunda. Inilah rute yang ditempuh Mualim yang punya anjing spesial tersebut.

Kita tahu bahwa orang Minang sejak dulunya memanglah bangsa yang suka merantau atau berdiaspora ke hampir seluruh penjuru dunia.

Anjing Muta’alim?

Ternyata dalam kitab suci Al Quran ada disebutkan mengenai anjing terlatih yang disebut kalbun muta’allam atau disebut anjing “mau” dalam ucapan sehari-hari di Minangkabau. Barangkali anjing jenis inilah yang disebut sebagai anjing mualim, lebih masuk akal daripada anjing kepunyaan si mualim. Sebagaimana kita ketahui, orang Minang sangat gemar memelihara anjing untuk kepentingan berburu babi dan berburu hewan liar lainnya. Di Minangkabau, istilah “mau” untuk anjing, juga ada istilah “balam mau” yang artinya “burung balam (sejenis tekukur) yang sudah terlatih untuk diperlombakan bunyinya”.

Kalaulah benar anjing mualim itu bermaksud anjing muta’allim, maka dapat kita duga bahwa orang Minang semenjak dahulu sudah akrab dengan ilmu al Quran dan ilmu hadits sehingga istilah anjing muta’alim menjadi biasa dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin kebiasaan menyebut anjing mualim ini sudah ada sebelum nenek moyang orang Minang hijrah ke Luhak Nan Tigo atau lereng Gunung Marapi, yaitu bersamaan dengan era Kucing Siam dan Harimau Champa.

 

Mualim menjadi Malin

 

Mualim dan Malin dalam kultur Minangkabau menjadi dua nama atau gelar yang saling beririsan. Mualim jarang disebut dalam kehidupan sehari-hari kecuali dalam penamaan tokoh Anjing Mualim saja. Yang paling sering disebut adalah gelar Malin karena Malin merupakan suatu jabatan dalam adat. Seorang Malin tak jarang bergelar Imam atau Pandito atau Pakiah. Tugas seorang Malin adalah menjadi perangkat kepenghuluan sebagai pendamping Penghulu yang bergelar Datuk atau bukan Datuk. Malin bertugas sebagai administrator di bidang keagamaan. Karena itu fungsi Malin sering diasosiasikan sebagai guru atau pengajar ilmu agama, berbeda dengan Mu’alim yang sejatinya adalah guru segala bidang, bebas tak ditentukan. Jadi ada penyempitan makna dari Mualim menjadi Malin

Di daerah pesisir, gelar Malin cukup populer, bahkan diwariskan secara turun temurun ke anak laki-laki. Sebagian juga diturunkan kepada keponakan laki-laki menurut garis ibu. Kisah yang cukup terkenal adalah kisah Malin Kundang yang juga berayahkan seorang Malin. Sedangkan cerita rakyat yang terkenal adalah Kaba Malin Deman yang kisahnya rada mirip kisah Jaka Tarub di pulau Jawa.

Kenapa gelar Anjing Mualim tidak berubah menjadi Anjing Malin?

Nah disitulah uniknya. Mungkin karena latar belakangnya berbeda, sehingga tidak serta merta gelar tersebut berubah. Karena konon katanya Mualim dalam penamaan Anjing Mualim bukanlah Mualim yang bermakna guru agama atau Malin melainkan mualim dalam dunia pelayaran zaman dahulu. Mualim dalam dunia pelayaran berarti awak kapal atau pembantu nakhoda.

Monday, February 5, 2024

Silsilah Raja-Raja Pagaruyung

Berikut silsilah raja-raja Pagaruyung:
  1. Sri Maharaja kawin dengan Putri Sari Putri, beranak dua yaitu : Raja Natan Sang Setra Sangkala, Suri Diraja dan Putri Indra Jalita
  2. Raja Natan kawin dengan PR Jani, beranak : PR Kumani
  3. Puti Indra Jalita kawin dg Hyang Indrajati Tuan Cati, beranak : PR Jalita, PR Sudah, Dt Sri Maharaja Nan Bamega-nega, Puti Ratna Mandi, Dt Parpatih Nan Sabatang, Dt Katumanggungan, PR Sudi.
  4. Puti Reno Jalita kawin dg Adityawarman, beranak: Ananggawarman, Dewi Rena Dewi Ranggawani
  5. Ananggawarman kawin dg Puti Reno Dewi, beranak : Puti Reno Panjang Rambut I, Puti Reno Selaras Pinang Masak dan Puti Reno Bungsu (Puti Silindung Bulan).
  6. Dewi Reno Dewi kawin beranak : Dewang Pandan Putowano.
  7. Dewang Pandan Putowano (Tuanku Marajo Sati I) kawin dengan Puti Reno Bungsu Silindung Bulan, beranak Puti Panjang Rambuik II.
  8. Puti Panjang Rambuik II beranak : Dewang Pandak Salasiah Banang Raiwano (Dang Tuanku) dan Dewang Ramowano (Cindurmato, lain ayah)
  9. Raiwano kawin dg PR Kamuniang Mego (Puti Bungsu), beranak : Dewang Sari Dewano
  10. Dewang Sari Dewano (Tuanku Marajo Sati II) kawin dg PR Rani Dewi, beranak : Dewang Sari Magowano dan PR Mahligai Cimpago Dewi.
  11. Ramowano (Cindurmato) kawin dg PR Marak Rindang Ranggowani, beranak : PR Rani Dewi dan Dewang Ranggowano.
  12. Dewang Ranggowano (Sutan Lembang Alam) kawin dg PR Maharani, beranak : PR Nalo Nali, PR Nango
  13. Dewang Sari Magowano (Sri Raja Maharaja) kawin dg PR Nalo Nali, beranak : Rajo di Buo III, PR Jalito, Puto Rajo Bawang
  14. PR Nango beranak PR Lenggo Geni dan Puto Buyung Rajo Nasution.
  15. Puto Rajo Bawang kawin dg PR Lenggo Geni.
  16. Banang Sutowano kawin dg PR Jalito, beranak : PR Pomaisuri
  17. PR Mahligai kawin dg Dewang Patualo Sanggowano Rajowano, beranak BPD Sutowano, PR Suto Dewi.
  18. Rajo di Buo III kawin dg PR Suto Dewi, beranak Sultan Alif I.
  19. Sultan Alif I kawin dg PR Pomaisuri, beranak : Sultan Syaiful Aladdin, PR Awan Tasingik, Yamtuan Rajo Kuaso I, PR Sadi, PR Rampiang, Yamtuan Rajo Gamuyang I.
  20. Yamtuan Rajo Gamuyang I kawin dg Puti Andam Dewi, beranak : Yamtuan Rajo Manguyang
  21. Yamtuan Rajo manguyang beranak : Puti Sari Antan, Yamtuan Rajo Gandam, Yamtuan Rajo Pangat I
  22. Yamtuan Rajo Pangat I beranak Yamtuan Rajo Bagewang
  23. Yamtuan Rajo Bagewang kawin dg PR Kumalo, beranak : Yamtuan Rajo Gamuyang
  24. Yamtuan Rajo Gamuyang kawin dg TG Reno Suto (anak dari Rajo Bagagarsyah Alam dg TGR Janggo, anak dari PR Kuniang dg Yamtuan Rajo Pingai, PR Kuniang anak dari PR Baruaci dg Sultan Ahmadsyah, ia bersaudara dg Sultan Alif II), beranak : TG Aluih, Yamtuan Bawang Sultan Alam Muningsyah I dan Yamtuan Alam Perhimpunan.
  25. Sultan Ahmadsyah anak dari Sultan Syaiful Aladin dg Puti Reno Kumalo. Ia bersaudara dg YDP Sari Maharajo I, Yamtuan Arif Badrunsyah, Yamtuan Buyuang.
  26. Rajo Bagagarsyah Alam anak dari Sultan Alif II dg TG Saruaso III. Ia bersaudara kandung dg : YDP Tuanku Rajo Sumpur, PR Duato, PR Jati, TG Saruaso IV.
  27. Yamtuan Muningsyah I kawin dengan PR Intan, beranak : Muningsyah II (Patah), Yamtuan Pandak Raja Beringin Sultan Alam Muningsyah I, YDR Bakumih
  28. Muningsyah II kawin dg TGR Janji, beranak : Yamtuan Bujang Nan Bakundi, ST Syariful Alam Bagagarsyah, TGR Sori, TG Tembong, YDP Batuhampar,

Maharaja Diraja Adityawarman

Siapa yang tak kenal dengan beliau. Orang yang membaca sejarah Majapahit pasti mengenal beliau. Karena dia adalah sepupu dari Raja Majapahit kedua, Jayanegara (nama kecilnya Kalagemet).
Adityawarman juga sahabat Gajah Mada sejak kecil. Sama-sama berjuang menyatukan Nusantara dan mewujudkan isi Sumpah Palapa.
Tapi sayang beribu kali sayang, Adityawarman terpaksa meninggalkan Majapahit setelah terbunuhnya Jayanegara, sepupunya akibat intrik-intrik kotor istana.
Adwayawarman atau dikenal sebagai Adwaya Brahma, ayah dari Adityawarman merupakan tangan kanan Raja Singasari, Kertanegara. Majapahit sudah tidak lagi meneruskan cita-cita Singasari tapi hanya berambisi atas penaklukan demi penaklukan.
Adityawarman hijrah ke kerajaan kakeknya Tribuanaraja Mauliwarmadewa dan juga pamannya Akarendrawarman. Ia memindahkan istana Malayapura ke Surawasa. Dharmasraya tidak lagi aman.
Beberapa tahun sesudah wafatnya Adityawarman, Majapahit menyerang Surawasa tapi kalah di Buluh Kasok yang terkenal dengan nama Padang Sibusuk.
Silahkan cari bukunya ya guys.

Pengantar Tambo Bayang 1915

Ini merupakan tambo perbilangan uraian adat monografi nagari bayang yang diuraikan dalam kerapatan adat bayang nan tujuh koto dan kerapatan adat koto nan salapan
Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Nagari Koto Nan Salapan
Pada tanggal 18 sampai 25 Mei 1915 telah bersidang kerapatan adat Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Nagari Koto Nan Salapan, yang dipimpin oleh Pucuk Bulek Urek Tunggang nagari itu. Kedua kerapatan ini adalah atas perintah kepala pemerintah di Painan, Asisten Residen kepada Demang Painan, Si Musa Ibrahim yang disampaikan pada Asisten Demang Bayang, Sutan Tahar Baharuddin dan kepada Tarumun gelar Datuk Maharajo Sutan, bekas guru pensiunan yang berasal dari Kinari dan diterima oleh pimpinan kerapatan adat Bayang Nan Tujuh Koto, Datuk Setia, penghulu pucuk bulek urek tunggang Bayang Nan Tujuh Koto dan kepala pimpinan kerapatan adat Koto Nan Salapan, Datuk Bagindo Sutan Basa, ganti penghulu Pucuk Bulek Urek Tunggang atau rajo di pulut-pulut dan kedua kerapatan ini dihadiri oleh anggota-anggota kerapatan dan orang tua-tua serta penghulu-penghulu yang tertua dan orang yang punya pangkat sepanjang adat, turunannya orang empat jenis dalam Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Koto Nan Salapan. Turut hadir Demang Painan dan Asisten Demang Bayang dan guru-guru tarumun Datuk Maharajo Sutan.
Kedua kerapatan ini dimulai pada jam yang telah ditentukan untuk membicarakan kabarnya perintah :
  1. Sidang pertama diadakan pada tanggal 18 sampai 20 mei 1915 di balai panjang Koto Berapak dibawah beringin nan tigo batang. Sidang ini dihadiri oleh anggota kerapatan adat bayang nan tujuh koto sampai ke kapak rembai dan kandungannya, sampai ke amban (ambun) puruik yang dipimpin oleh datuk setia. Membicarakan tentang adapt monografi baying nan tujuh koto sampai ke kapak rembai dan kandungannya
  2. Sidang kedua diadakan pada tanggal 20 sampai 22 mei 1915 di Pulut-pulut bertempat di persinggahan, di pulut-pulut sampai ke taratak nan tigo dan koto nan tigo, dipimpin oleh datuk bagindo sutan basa, rajo di Pulut-pulut.
Sesudah kerapatan ini dibicarakan lebih lanjut dan menyelidiki serta meneliti secara mendalam dan menelusuri lebih jauh maka kedua persidangan ini (menghasilkan) keputusan dengan pendapat bersama sebagai berikut :
Keterangan
Sebagaimana keterangan yang diperdapat yang dikumpulkan dalam kedua persidangan ini menurut sepanjang waris yang dijawat, pusaka nan ditolong dari ninik mereka yang terdahulu dari penduduknya dan orang yang berpangkat sepanjang adapt, berasal dari nagari kubung tigo baleh atau koto nan tigo di darek yaitu :
  1. Kinari
  2. Muaro Paneh
  3. Koto Anau
Mula ninik turun ke baying
menurut sepanjang waris nan dijawat pusaka yang ditolong, dari ninik mereka yang terdahulu atau kata yang diterima dari orang tua dan penghulu-penghulu yang tertua di nagari baying ini, sejarahnya adalah sebagai berikut :
  1. turun dari koto nan tigo di darek
  1. dari kinari, niniknya bergelar dt. Nan bagajobiang, suku melayu
  2. dari muaro paneh, niniknya dt. Bakupiah ameh, suku tanjung
  3. dari koto anau, niniknya dt. Nan kiramaik, suku caniago
Hingga ke lubuk silau
Mereka turun ke keuda nagari itu yaitu bayang nan tujuh koto dan nagari nan salapan dengan penduduknya seperinduan laki-laki dan perempuan serta penghulunya dan orangtuanya juga malin yang berempat ke pulut-pulut dan koto nan salapan terus ke baying nan tujuh koto.
Mereka turun mula-mula mendaki ke bukit kambuik, menurun ke danau nan dua yaitu danau diatas dan danau dibawah. Kemudian mereka meniti danau kembar itu melereng-lereng ke rawang silimau dan berjalan terus maka tibalah di sebuah bukit lalu mereka tinjau dari bukit it uterus kea rah kanan, tampaklah asap orang memarun dalam lurah yang amat dalam, sekarang disebut koto sebelas tarusan.
Setelah mereka melihat lurah itu sudah ditunggui orang mereka berpaling kea rah kiri lalu tertuju oleh mereka sebuah bukit karang, lantas mereka turuni bukit itu bersama-sama, sampai sekarang bukit tempat meninjau itu bernama bukit paninjauan.
Setiba mereka di bukit karang itu maka mereka layangkan pandangan jauh dan ditukikkan pandangan dekat maka terlihatlah oleh mereka sebuah lurah yang amat dalam dan luas, yang dilindungi oleh bukit barisan dan laut yang berombak-ombak. Di dalam lurah itu terlihatlah oleh mereka bayangan padi masak.
Kemudian mereka terus menuruni lurah itu. Setiba di tempat itu mereka lihat bayangan itu tapi bukanlah padi yang sedang masak melainkan daun ilalang yang sudah tua. Sampai sekarang bukit yang dicalik itu bernama bukit karang calik. Maka itulah sebabnya nagari baying diikrarkan dari kata ‘bayangan’.
Kemudian mereka terus melereng-lereng bukit meninjau ke limau purut sekarang sampai ke tanah tinggi yang sekarang disebut koto ranah limau purut, asalnya dari kata ‘purut koto nan tinggi’
Dan seterusnya mereka berjalan berarah-arahan sampai ke tanah yang sepadan dan berbatu-batu berpadat-padatan dikelilingi bukit barisan. Disinilah mereka berpandut-pandutan. Sepandut dari muaro paneh dan sepandut dari koto anau. Itulah sebabnya bernama pulut-pulut, berasal dari kata ‘berpandut-pandutan’.
Karena nagari sepandut itu daerahnya amat sedikit, berbatu-batu dan berbukit-bukit maka oleh ninik mereka sebagian dari penduduk, delapan orang penghulu, tiga orang lainnya dan empat orang malin dikepalai oleh seorang raja pengganti penghulu yaitu PBUT nan di darek ditinggalkan di pulut-pulut yaitu yang dari muaro paneh dan koto anau. Yang dari kinari tidak ditinggalkan di pulut-pulut dan itu pulalah sebabnya disebut koto nan salapan karena delapan orang penghulu pucuknya ditinggalkan di pulut-pulut.
Dan sebagian lagi dibawa oleh ninik mereka ke nagari baying nan tujuh koto sekarang. Waktu mereka berjalan maka terlihat oleh mereka sebuah lubuk yang sangat dalam. Arus lubuk itu mereka seberangi bersama-sama dan tibalah diseberangnya. Sampai sekarang tempat itu bernama lubuk silau, berasal dari kata menyilaukan.