Iklan Adsense

Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Tuesday, February 6, 2024

Paradoksnya Dunsanak Anjing

 

Saat ini di zaman now sudah mulai agak janggal atau dianggap kasar istilah yang satu ini lantaran ada kata-kata “anjing” nya. Kadang-kadang orang tua suka menyebut kata “wowouk” saja untuk hewan anjing padahal kosakata anjing sudah lama dikenal di masyarakat kita tapi entah kenapa akhir-akhir ini menjadi agak kasar atau berpantang mengucapkan kata “anjing” tersebut. Dalam bahasa Jawa, anjing disebut “asu” dan sering kata “asu” ini menjadi kosakata umpatan dan makian dalam masyarakat Jawa. Entah apa salahnya si asu atau si anjing ini, padahal ada banyak kisah dan sejarah dalam dunia peranjingan ini.

Dalam al Quran sendiri nama hewan anjing beberapa kali disebut, misalnya dalam surat al Kahfi tentang anjing piaraan para pemuda Ashabul Kahfi, dimana anjing tersebut menjaga pintu gua tempat para pemuda tertidur selama 309 tahun dan keberadaan anjing tersebut diabadikan oleh Allah dalam kitab sucinya. Begitu pula ketika al Quran menyebutkan tentang anjing yang terlatih (dalam bahasa Arab disebut Kalbun Muta’allam yang orang Minang menyebutnya Anjiang Mualim – nanti kita bahas di topik berikutnya) dimana hasil buruan anjing terlatih halal untuk dimakan. Dalam hadits Nabi, hewan anjing juga sering disebut-sebut terkait anjing yang diselamatkan oleh seorang wanita tunasusila yang akhirnya akan menyelamatkan wanita tersebut kedalam surga dan perihal najisnya air liur anjing sehingga barang-barang atau anggota badan yang terkena liur anjing harus disamak atau dibasuh tujuh kali dengan tanah.

Begitu pula dalam budaya Nusantara dan cerita rakyat terkait anjing, misalnya dalam kisah Sangkuriang dimana ayah Sangkuriang menyamar sebagai hewan anjing bernama Si Tumang atau dalam kisah legenda atau mitos nenek moyang suku Nias dan lain sebagainya. Begitu pula dalam budaya Minang, tersebut seorang tokoh leluhur bernama atau bergelar Anjing Mualim bersama tiga tokoh lainnya yang sezaman.

Friday, December 8, 2017

Sutan dan Puti dalam Budaya Minangkabau

Sutan
Sutan adalah nama kecil atau gelar bangsawan Minangkabau, yang merupakan pergeseran penyebutan untuk Sultan (yang berarti raja) dalam Bahasa Minang. Dalam kebiasan masyarakat Minang tempo dulu, penyebutan huruf “r” dan “l” sering menghilang. Tak jarang huruf “r” bila di tengah sebuah “kata” berubah pengucapannya menjadi “gh”,”h” dan “l” atau menghilang.
Tapi ada pendapat lain dari seorang budayawan Minang, AA Navis, bahwa kata “sutan” berasal dari Bahasa Sanskerta “su” dan “tan” yang berarti baik, bagus dan orang, sehingga sutan bermakna orang baik, orang yang mulia.
Contoh-contoh nama tokoh yang masih menggunakan sutan didepan nama kecilnya sebagai berikut:

Di Pariaman, gelar Sutan, Sidi dan Bagindo diwariskan secara patrilineal dari ayah ke anak, selain gelar adat yang diwariskan secara matrilineal.
 

Puti dan Puti Reno

Puti adalah nama kecil atau gelar yang diberikan kepada perempuan yang masih berdarah bangsawan Minangkabau baik darah raja maupun darah datuk yang ada pada mereka, murni ataupun campuran.
Istilah puti merujuk pada istilah putri (princess) dalam budaya Melayu. Kadang-kadang digabungkan dengan kata reno dan tuan sehingga menjadi Puti Reno (Puti Rekna, Putri Ratna) dan Tuan Puti
Terkenal dalam pepatah petitih Minangkabau : adat raja turun-temurun, adat puti sundut bersudut yang artinya apabila seorang raja mangkat maka ia digantikan oleh anak atau kemenakannya sedangkan seorang puti bila mempunyai anak perempuan maka anak perempuannya otomatis juga seorang puti.
Perempuan-perempuan keturunan kerajaan Pagaruyung, kerajaan Inderapura, kerajaan Siguntur masih menyandang nama puti pada nama kecilnya.