Iklan Adsense

Showing posts with label pagaruyung. Show all posts
Showing posts with label pagaruyung. Show all posts

Tuesday, February 13, 2024

Daftar Raja Inderapura

Periode Teluk Daya Pura - Air Pura

Raja-raja periode ini (Dinasti Jamalul Alam):
  1. SULTAN MAHYIDINSYAH. Akhir Abad ke IX (?)
  2. SULTAN SRIMAHARAJO DIRAJO ALAMSYAH. Anak no 1
  3. SULTAN FIRMANSYAH. Anak no 2
  4.  SULTAN GEGAR ALAMSYAH. Anak no 3
  5.  SULTAN USMANSYAH, BERDARAH PUTIH. Anak no 4
  6. SULTAN FIRMANSYAH. Anak no5
  7. SULTAN MUHAMMADSYAH. Anak no 6
  8. SULTAN FIRMANSYAH. Anak no 7
  9. SULTAN MARADHU ALAM SYAH. Anak no7
  10. SULTAN MADLAFARSYAH
Periode Kerajaan - Kesultanan Indrapura 

11.  SULTAN USMANSYAH (1526-1565)
12.  SULTAN GEGAR ALAMSYAH MUHAMMADSYAH, TUANKU BERDARAH PUTIH (1565-1600). Anak no 11
13. PUTRI SYIAH BINTANG PURNAMA. Anak no 11
14. SULTAN ALI AKBAR SYAH SULTAN MUHAMMADSYAH (1600-1635). Anak no 13
15. PUTRI BANGUN REKNA CAHAYA ALAM. Anak no 13
16. SULTAN INAYATSYAH MUHAMMADSYAH (1635-1660). Anak No 15.
17. SULTAN MALAFARSYAH (1660-1687). Sepupu dari no 16, anak dari Putri Kambukanan yang merupakan adik kandung dari no 15.
17. SULTAN SYAHIRULLAH DAULAT ALAM (1687-1707). Anak dari no 15, adik dari no 16.
18. PUTRI LINGGO GENI DEWI ALAM. Anak no 15.
19. SULTAN ZAM-ZAMSYAH GELAR SULTAN FIRMANSYAH (1707-1737). Anak no 19
20. PUTRI MAYANG SARI. Anak no 19
21. SULTAN MUHAMMAD SYAH (1737-1774). Anak no 21
22. PUTRI ZAHARA ALAM BINTANG CAHAYA. Anak no 19, adik no 21
23. SULTAN INDERAHIMSYAH GELAR SULTAN MUHAMMADSYAH (1774-1804). Anak no 23.
24. PUTRI SRI GADING BINTANG PURNAMA. Anak no 23
25. SULTAN AIYATULLAHSYAH GELAR SULTAN INAYATSYAH (1804-1840). Anak no25
26. PUTRI JUSMA ALAM CAHAYA. Anak no 25
27. SULTAN MUHAMMAD ARIFINSYAH GELAR SULTAN MUHAMMADSYAH (1840-1860). Anak no 27.
28. PUTRI SRIHATI BINTANG ALAM /TUANKU DUSI. Anak no 27.
29. PUTRI BANGUN CAHAYA. Anak no 29
30. TUANKU BALINDUNG SULTAN MUHAMMAD BAQI GELAR SULTAN FIRMANSYAH (1860-1891).

Perwakilan Indrapura di wilayah lain:
  1. SULTAN MANSYUR SYAH GELAR SULTAN MUHAMMAD SYAH. Memerintah di padang sebagai wakil raja inderapura dipadang. (1791-1798). Anak dari putri mayang sari= anak no 19.
  2. SULTAN MUHAMMAD JAYA KARMA Gelar SULTAN AHMADSYAH. Perwakilan raja Inderapura di Padang. (1798-1825), died in inderapura 1827.  Kemenakan dari Sultan Mansyursyah
  3. SULTAN TAKDIR KHALIFATULLAHSYAH. Memerintah di muko-muko sebagai Perwakilan raja Inderapura di muko-muko.. Anak no 21
  4. ABDUL MUTHALIB TAKDIR KHALIFATULLAHSYAH, anak dari catatan no 3, regent muko-muko(1832-1870)
  5. REGENT MUHAMMAD RUSLI GELAR SUTAN ABDUL KARIM. Menantu dari no 31, diangkat sebagai Regent oleh kolonial Belanda 1891 dan dipensiunkan pada tahun 1911.
Tautan Luar:

Monday, February 5, 2024

Silsilah Raja-Raja Pagaruyung

Berikut silsilah raja-raja Pagaruyung:
  1. Sri Maharaja kawin dengan Putri Sari Putri, beranak dua yaitu : Raja Natan Sang Setra Sangkala, Suri Diraja dan Putri Indra Jalita
  2. Raja Natan kawin dengan PR Jani, beranak : PR Kumani
  3. Puti Indra Jalita kawin dg Hyang Indrajati Tuan Cati, beranak : PR Jalita, PR Sudah, Dt Sri Maharaja Nan Bamega-nega, Puti Ratna Mandi, Dt Parpatih Nan Sabatang, Dt Katumanggungan, PR Sudi.
  4. Puti Reno Jalita kawin dg Adityawarman, beranak: Ananggawarman, Dewi Rena Dewi Ranggawani
  5. Ananggawarman kawin dg Puti Reno Dewi, beranak : Puti Reno Panjang Rambut I, Puti Reno Selaras Pinang Masak dan Puti Reno Bungsu (Puti Silindung Bulan).
  6. Dewi Reno Dewi kawin beranak : Dewang Pandan Putowano.
  7. Dewang Pandan Putowano (Tuanku Marajo Sati I) kawin dengan Puti Reno Bungsu Silindung Bulan, beranak Puti Panjang Rambuik II.
  8. Puti Panjang Rambuik II beranak : Dewang Pandak Salasiah Banang Raiwano (Dang Tuanku) dan Dewang Ramowano (Cindurmato, lain ayah)
  9. Raiwano kawin dg PR Kamuniang Mego (Puti Bungsu), beranak : Dewang Sari Dewano
  10. Dewang Sari Dewano (Tuanku Marajo Sati II) kawin dg PR Rani Dewi, beranak : Dewang Sari Magowano dan PR Mahligai Cimpago Dewi.
  11. Ramowano (Cindurmato) kawin dg PR Marak Rindang Ranggowani, beranak : PR Rani Dewi dan Dewang Ranggowano.
  12. Dewang Ranggowano (Sutan Lembang Alam) kawin dg PR Maharani, beranak : PR Nalo Nali, PR Nango
  13. Dewang Sari Magowano (Sri Raja Maharaja) kawin dg PR Nalo Nali, beranak : Rajo di Buo III, PR Jalito, Puto Rajo Bawang
  14. PR Nango beranak PR Lenggo Geni dan Puto Buyung Rajo Nasution.
  15. Puto Rajo Bawang kawin dg PR Lenggo Geni.
  16. Banang Sutowano kawin dg PR Jalito, beranak : PR Pomaisuri
  17. PR Mahligai kawin dg Dewang Patualo Sanggowano Rajowano, beranak BPD Sutowano, PR Suto Dewi.
  18. Rajo di Buo III kawin dg PR Suto Dewi, beranak Sultan Alif I.
  19. Sultan Alif I kawin dg PR Pomaisuri, beranak : Sultan Syaiful Aladdin, PR Awan Tasingik, Yamtuan Rajo Kuaso I, PR Sadi, PR Rampiang, Yamtuan Rajo Gamuyang I.
  20. Yamtuan Rajo Gamuyang I kawin dg Puti Andam Dewi, beranak : Yamtuan Rajo Manguyang
  21. Yamtuan Rajo manguyang beranak : Puti Sari Antan, Yamtuan Rajo Gandam, Yamtuan Rajo Pangat I
  22. Yamtuan Rajo Pangat I beranak Yamtuan Rajo Bagewang
  23. Yamtuan Rajo Bagewang kawin dg PR Kumalo, beranak : Yamtuan Rajo Gamuyang
  24. Yamtuan Rajo Gamuyang kawin dg TG Reno Suto (anak dari Rajo Bagagarsyah Alam dg TGR Janggo, anak dari PR Kuniang dg Yamtuan Rajo Pingai, PR Kuniang anak dari PR Baruaci dg Sultan Ahmadsyah, ia bersaudara dg Sultan Alif II), beranak : TG Aluih, Yamtuan Bawang Sultan Alam Muningsyah I dan Yamtuan Alam Perhimpunan.
  25. Sultan Ahmadsyah anak dari Sultan Syaiful Aladin dg Puti Reno Kumalo. Ia bersaudara dg YDP Sari Maharajo I, Yamtuan Arif Badrunsyah, Yamtuan Buyuang.
  26. Rajo Bagagarsyah Alam anak dari Sultan Alif II dg TG Saruaso III. Ia bersaudara kandung dg : YDP Tuanku Rajo Sumpur, PR Duato, PR Jati, TG Saruaso IV.
  27. Yamtuan Muningsyah I kawin dengan PR Intan, beranak : Muningsyah II (Patah), Yamtuan Pandak Raja Beringin Sultan Alam Muningsyah I, YDR Bakumih
  28. Muningsyah II kawin dg TGR Janji, beranak : Yamtuan Bujang Nan Bakundi, ST Syariful Alam Bagagarsyah, TGR Sori, TG Tembong, YDP Batuhampar,

Maharaja Diraja Adityawarman

Siapa yang tak kenal dengan beliau. Orang yang membaca sejarah Majapahit pasti mengenal beliau. Karena dia adalah sepupu dari Raja Majapahit kedua, Jayanegara (nama kecilnya Kalagemet).
Adityawarman juga sahabat Gajah Mada sejak kecil. Sama-sama berjuang menyatukan Nusantara dan mewujudkan isi Sumpah Palapa.
Tapi sayang beribu kali sayang, Adityawarman terpaksa meninggalkan Majapahit setelah terbunuhnya Jayanegara, sepupunya akibat intrik-intrik kotor istana.
Adwayawarman atau dikenal sebagai Adwaya Brahma, ayah dari Adityawarman merupakan tangan kanan Raja Singasari, Kertanegara. Majapahit sudah tidak lagi meneruskan cita-cita Singasari tapi hanya berambisi atas penaklukan demi penaklukan.
Adityawarman hijrah ke kerajaan kakeknya Tribuanaraja Mauliwarmadewa dan juga pamannya Akarendrawarman. Ia memindahkan istana Malayapura ke Surawasa. Dharmasraya tidak lagi aman.
Beberapa tahun sesudah wafatnya Adityawarman, Majapahit menyerang Surawasa tapi kalah di Buluh Kasok yang terkenal dengan nama Padang Sibusuk.
Silahkan cari bukunya ya guys.

Tuesday, January 9, 2018

Kerajaan Inderapura

Kerajaan Inderapura atau Karajaan Indopuro merupakan salah satu kerajaan yang terdapat di wilayah adat Minangkabau, tepatnya di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat sekarang. Penduduk lokal menyebutnya Karajaan Nupugho. Menurut sumber Wikipedia, Kerajaan Indrapura merupakan Ujung Pagaruyung bahkan disebut sebagai vazal atau kerajaan bawahan Pagaruyung. Lebih halusnya disebut Sapiah Balahan Kudung Karatan Kerajaan Pagaruyung.


Kerajaan Indrapura yang juga disebut sebagai Kesultanan Indrapura, mulai termasyhur semenjak ramainya pelayaran di perairan barat Sumatera dan bersamaan dengan jatuhnya Kesultanan Malaka ke tangan bangsa Portugis pada tahun 1511. Pada masa itu banyak pula bangkit pelabuhan-pelabuhan lainnya di sepanjang pesisir barat Sumatra seperti Bandar Tiku Pariaman, Bandar Sepuluh dan bandar-bandar di wilayah Bengkulu hingga Lampung.

Setelah Kesultanan Malaka runtuh, maka Kesultanan Aceh Darussalam bangkit dan berusaha mengusir Portugis dari Malaka tapi tidak berhasil. Yang mengusir Portugis justru kedatangan VOC karena perjanjian antara Belanda dan Portugis.

Pada saat Aceh sedang berambisi itulah, ia melakukan ekspansi besar-besaran ke pesisir barat Sumatra hingga ke Indrapura. Sebelumnya sudah banyak keturunan Aceh yang berlayar dan berdagang ke pesisir barat Minangkabau. Banyak "Meurah" yang kawin dengan penduduk pesisir Minangkabau. Bandar Tiku di utara Pariaman juga didirikan oleh keturunan para Teuku dari Aceh. Bukan itu saja, Aceh merangsek jauh lebih ke pedalaman Minangkabau, berdagang sekaligus mendakwahkan Islam kepada rakyat Minangkabau yang waktu itu masih banyak beragama Hindu Buddha dan aliran kepercayaan setempat. Banyak orang Minang yang belajar agama ke Aceh apalagi pasca wafatnya Maharaja Ananggawarman kedaulatan Malayapura mulai meredup dan perhatian orang-orang beralih ke Aceh dan Islam, Aceh kemudian dikenal sebagai serambi Mekkah.

Begitu pula di Bandar Sepuluh dan Indrapura, Islam mulai bersinar. Indrapura yang awalnya perkampungan pesisir dan muara yang dominan Hindu Buddha tumbuh menjadi kerajaan besar dan kesultanan Islam walaupun tetap bernama Indrapura. Komoditas terbesarnya adalah lada dan emas. Indrapura berdagang dan berlayar hingga ke Banten. Indrapura melakukan hubungan yang sangat rapat dan saling mempengaruhi dengan Kesultanan Aceh Darussalam bahkan ada keturunan Indrapura yang jadi sultan di Aceh seperti Sultan Buyung.

Kerajaan Indrapura masih bercorak adat atau mengikuti tradisi matrilineal Minangkabau, misalnya dalam hal pewarisan tahta kerajaan berlangsung dari mamak ke kemenakan, bukan dari ayah ke anak sebagaimana umumnya kerajaan di dunia. Disamping itu juga sering kali tahta dipegang oleh perempuan, saudari raja yang kemudian terkenal dengan sebutan Raja Perempuan. Kemudian juga tak jarang suami Raja Perempuan yang turut memegang tahta dan menjalankan pemerintahan dan mereka para suami Raja Perempuan itu berasal dari kerabat kerajaan dari luar atau dari jauh seperti Bintan, Sungai Pagu dan Aceh.

Hubungan Indrapura dengan Sungai Pagu dan Indragiri

Dalam mamangan Kerajaan Sungai Pagu disebutkan bahwa Indrapura merupakan radai dari Sungai bersamaan dengan Indragiri sebagai kepak (sayap)nya, artinya Indrapura dan Indragiri merupakan kerabat dekat Sungai Pagu (Solok Selatan). Tidak jarang terjadi perkawinan antara pangeran di Sungai Pagu dengan putri Raja Indrapura seperti Sultan Mazafarsyah.

Tautan Luar:
1. https://lubukgambir.wordpress.com/2012/06/29/menelusuri-jejak-sejarah-manuskrip-kesultanan-inderapura/ 
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Inderapura
3. http://wawasanislam.wordpress.com/2008/04/30/kesultanan-indrapura/ 
4. http://lagulamaku.blogspot.com/2009/04/puing-puing-bekas-istana-kerajaan.html
5. http://triatra.wordpress.com/2010/12/16/kerajaan-inderapura-kejayaan-masa-lalu-renah-indojati/
6. https://lubukgambir.wordpress.com/2011/12/16/kesultanan-inderapura-sejak-abad-9-m/  

Sunday, January 7, 2018

Cindurmato


Cindurmato atau Cindua Mato tertulis menjadi kaba - sebuah hikayat klasik Minangkabau, didendangkan melalui cerita rabab Pesisir dan dijadikan bahan cerita untuk randai - sebuah opera khas Minangkabau.
Cindurmato, ada yang mengartikannya sebagai sebuah cinderamata atau tanda hadiah. Cindurmato selalu menjadi bahan perbincangan setiap generasi.
Cindurmato, ia bukanlah seorang pangeran dan bukan pula berdarah bangsawan tapi ia hidup di lingkungan kerajaan. Ia seorang pendekar, anak dari seorang dayang istana, anak seorang pembantu di kerajaan, anak tukang kipas sang ratu, anak orang suruhan pembantu istana.
Kisah Cindurmato menjadi menarik karena ia yang bukan bangsawan tapi kemudian bisa menjadi raja di kerajaan karena kepiawaian dan kesatriaannya. Ia memang bukan pangeran tapi keahliannya dalam seni pertahanan diri bisa mengalahkan seorang pangeran, apalagi hanya seorang Rumandung.
Kisah Cindurmato bermula dari kisah sang ratu Pagaruyung yang dikawatirkan menjadi perawan tua tanpa suami tanpa keturunan tanpa penerus tahta. Sang Ratu dulunya naik tahta karena tidak ada lagi yang akan meneruskan tahta ayahnya, Maharaja Wijayawarman namanya menurut sebuah ranji silsilah kerajaan. Wijayawarman adalah mantu dari Maharaja Ananggawarman Mauli Warmadewa yang juga merupakan keponakan dari sang Maharaja.
Sang Ratu yang bergelar Bundo Kanduang itu hampir saja tidak menikah seumur hidupnya. Sudah banyak yang meminangnya tapi Sang Raja Perempuan itu selalu menolaknya, tak ada yang berkenan di hatinya. Hatinya gundah gulana, alias galau kata "kids jaman now". Apa sebenarnya yang terjadi pada sang ratu? Tidak ada yang tahu. Dia perempuan tapi keberaniannya melebihi laki-laki. Kata orang, dia agak maskulin, kurang feminim, tidak sefeminim para tuan putri di keraton seberang.
Ternyata ada seorang pria kesatria di istananya, yang membuat sang ratu selalu menolak pinangan dari para pangeran di Suwarnadwipa bahkan Jawadwipan. Tapi sayang pria tampan tersebut sudah ada yang punya, dan yang memilikinya kasta rendah pula. Si Pria itu pun berkasta rendah pula. Apa kata dunia bila sang ratu menyatakan cinta pada pria tsb. Pasti Pagaruyung gempar, Malayapura bakal heboh.
Tapi siapa yang bisa membendung perasaan yang berkecamuk di hati. "Kelapa Gading" itu tetap harus dipanjat oleh Bujang Salamat Panjang Gombak. Mau tak mau ia harus mematuhi titah tuannya meskipun tuannya itu perempuan. Kambang Bendahari pun hanya bisa menggigit jarinya ketika ia menyaksikan kekasihnya "memanjat kelapa gading". Ia harus menerima takdir. Istana pun tak perlu berhura-hura dalam pesta perkawinan tuan putri. Rakyat tahunya hanya bahwa sang ratu sedang mengandung cita kerajaan, terlepas dari siapapun ayahnya. Bukankah di Minangkabau juga tak begitu penting keberadaan seorang ayah.

bersambung..............

silahkan tonton serial lengkap dramanya di youtubehttps://www.youtube.com/watch?v=sE9vylCzuqU

Tautan Luar:
1. https://histori.id/hikayat-cindua-mato/
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kaba_Cindua_Mato

Sang Adityawarman


Adityawarman adalah putra Adwayawarman. Dia teman Gajah Madah sewaktu kecil. Dia sepupu Jayanegara, putra raja Majapahit dan calon raja Majapahit yang kedua. Ibu Adityawarman bersaudara seayah dengan ibu Jayanegara.
Adityawarman belajar bahasa Malayu, bahasa Jawa dan bahasa Tionghoa di keraton Majapahit. Bersama Gajah Mada, Adityawarman menaklukkan Bali. Di Palembang, Adityawarman dikenal sebagai Arya Damar.
Tahun 1347, Adityawarman memisahkan diri dari Majapahit yang sudah tidak lagi kondusif dan tidak lagi aman serta nyaman. Dia mendirikan kerajaan baru di kampung halaman ibunya di Surawasa, Minangkabau. Ia menjuluki dirinya sebagai Kanaka Medinindra. 

Pelindung Yang Bercahaya
Demikianlah arti dari nama Adityawarman, nama pemberian keluarga besar Mauliwarmadewa. Tuanku Janaka, itulah  nama pemberian sang kakek, Srimat Tribuana Raja. Aji Mantrolot, kata orang-orang di keraton Majapahit. Adityawarman murni berdarah Malayu karena ayahnya Adwayawarman adalah orang Malayu. Ayahnya telah mengabdi di keraton Singasari sebelumnya. Sejak jaman dulu, jaman Sailendra, sudah banyak orang Malayu yang mengabdi di keraton-keraton Jawa karena memang mereka masih berkerabat.

Tuan Surawasa
Adityawarman oleh orang Dharmasraya dijuluki sebaagai Tuan Surawasa sebagaimana Akarendrawarman sebelumnya. Disebut Tuan Surawasa karena ia beristana di Surawasa, dekat Minangkabau. Surawasa yang kaya akan emas, sungainya disebut Sungai Emas. Tanahnya subur dan ditumbuhi padi-padian. Tuan Akarendra sudah membangun saluran irigasi untuk pertanian di Surawasa. Dia juga membangun sebuah taman yang indah di Surawasa dengan nama Taman Sri Nandana Surawasa. Surawasa juga merupakan tempat peribadatan Hindu dan Buddha yang mendukung untuk kekhusyukan pemujaan pada Sang Hyang Esa.

Indra di Tanah Emas
Adityawarman menjuluki dirinya sebagai Indra atau penguasa di Tanah Emas, Suwarna Dwipa. Karena sejak zaman dulu Sumatra terkenal dengan kandungan emasnya yang tinggi dan merata mulai dari Sabang hingga Lampung. Kandungan emas yang tidak habis-habisnya. Tapi entah kenapa dulunya keluarga Sailendra malah meninggalkan Sumatra padahal emas Sumatra begitu banyaknya.

Raja Indra
Adityawarman juga meneruskan gelar yang dipakai oleh dinasti Chola sejak abad 11 menaklukkan Sriwijaya. Dia bangga dengan gelar Raja Indra, raja segala dewa. Gelar Raja Indra masih hidup di tengah masyarakat Minang hingga hari ini, secara dialek lokal disebut Rajo Indo lengkapnya Datuak Rajo Indo.

Keturunan Adityawarman
Putra Adityawarman yang terkenal adalah Maharaja Ananggawarman, penerus tahta Malayapura walaupun tak berjaya seperti di masa ayahnya. Namun ada pula yang mengaku sebagai keturunan Adityawarman di Bali karena mereka meyakini bahwa Arya Damar merupakan nama lain dari Adityawarman. Begitupula ada yang percaya bahwa Parameswara yang kemudian bergelar Sultan Iskandarsyah pendiri Kesultanan Malaka adalah putra Adityawarman dari Palembang.

Tautan Luar
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Adityawarman
2. https://lubukgambir.wordpress.com/2012/06/29/adityawarman-dan-prasasti-kubu-rajo/
3. https://lubukgambir.wordpress.com/2012/06/29/akarendrawarman-bukan-dari-wangsa-mauli/
4. https://lubukgambir.wordpress.com/2012/06/27/malayapura/
5. https://lubukgambir.wordpress.com/2014/11/09/pengertian-dewang/
6. https://lubukgambir.wordpress.com/2014/11/09/dinasti-para-dewang-di-malayapura-suwarnabumi-minangkabau-pagaruyung/
7. https://lubukgambir.wordpress.com/2014/11/09/dewang-sri-deowano-yang-dipertuan-maharaja-sakti-ii/ 
 

Friday, December 8, 2017

Dewang Sri Deowano Yang Dipertuan Maharaja Sakti II

Dewang Sri Deowano yang bergelar Yang Dipertuan Maharaja Sakti II adalah maharaja ke-6 Malayapura Minangkabau Suwarnabhumi yang berpusat di Ulak Tanjuang Bungo Pagaruyung.
 

Keluarga
 

Ia adalah putra dari Dang Tuanku Sutan Remendung Dewang Pandan Salasih Sri Raiwano, anak Puti Puti Panjang Rambut II. Ia diutus oleh orang tuanya dari persembunyian ke ibukota kerajaan Malayapura untuk dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Puti Reno Marak Rindang Ranggowani, putri dari Dewang Cando Ramowano.
Dari pernikahannya dengan Puti Ranggowani, ia dikaruniai beberapa orang anak : Dewang Sri Megowano, Dewang Indo Naro, Puti Reno Bulian, Puti Reno Kahyangan, Puti Reno Mahligai Cimpago Dewi.
Kemudian Dewang Sri Deowano menikah lagi dengan putri sultan Aceh yang bernama Putri Ratna Keumala tapi pernikahan tak berlangsung lama dan tak dikaruniai anak karena diwarnai oleh konflik dua kerajaan.
 

Peristiwa penting di zamannya
 

Pada masanya terjadi serangan dari Timur, tepatnya Tebo, oleh pasukan yang dipimpin oleh Dewang Parakrama. peristiwa tersebut memaksa keluarga kerajaan mengungsi ke berbagai daerah termasuk ke Koto Anau, kerajaan vazal Malayapura di selatan di kaki Gunung Selasih Talang.
peristiwa lainnya adalah terlepasnya wilayah pesisir barat Suwarnabhumi dari penguasaan Minangkabau kepada kesultanan Aceh karena ketidaksanggupan Pagaruyung dalam membayar hutang Sri Deowano dalam pesta besar-besaran selama di Aceh.
 

Penerus tahta
 

selanjutnya tahta direbut oleh penyerang dari Tebo yang bernama Dewang Parakrama. ia berkuasa mencapai sepuluh tahun berikutnya.

Sutan dan Puti dalam Budaya Minangkabau

Sutan
Sutan adalah nama kecil atau gelar bangsawan Minangkabau, yang merupakan pergeseran penyebutan untuk Sultan (yang berarti raja) dalam Bahasa Minang. Dalam kebiasan masyarakat Minang tempo dulu, penyebutan huruf “r” dan “l” sering menghilang. Tak jarang huruf “r” bila di tengah sebuah “kata” berubah pengucapannya menjadi “gh”,”h” dan “l” atau menghilang.
Tapi ada pendapat lain dari seorang budayawan Minang, AA Navis, bahwa kata “sutan” berasal dari Bahasa Sanskerta “su” dan “tan” yang berarti baik, bagus dan orang, sehingga sutan bermakna orang baik, orang yang mulia.
Contoh-contoh nama tokoh yang masih menggunakan sutan didepan nama kecilnya sebagai berikut:

Di Pariaman, gelar Sutan, Sidi dan Bagindo diwariskan secara patrilineal dari ayah ke anak, selain gelar adat yang diwariskan secara matrilineal.
 

Puti dan Puti Reno

Puti adalah nama kecil atau gelar yang diberikan kepada perempuan yang masih berdarah bangsawan Minangkabau baik darah raja maupun darah datuk yang ada pada mereka, murni ataupun campuran.
Istilah puti merujuk pada istilah putri (princess) dalam budaya Melayu. Kadang-kadang digabungkan dengan kata reno dan tuan sehingga menjadi Puti Reno (Puti Rekna, Putri Ratna) dan Tuan Puti
Terkenal dalam pepatah petitih Minangkabau : adat raja turun-temurun, adat puti sundut bersudut yang artinya apabila seorang raja mangkat maka ia digantikan oleh anak atau kemenakannya sedangkan seorang puti bila mempunyai anak perempuan maka anak perempuannya otomatis juga seorang puti.
Perempuan-perempuan keturunan kerajaan Pagaruyung, kerajaan Inderapura, kerajaan Siguntur masih menyandang nama puti pada nama kecilnya.