Ini merupakan tambo perbilangan uraian adat monografi nagari bayang
yang diuraikan dalam kerapatan adat bayang nan tujuh koto dan kerapatan
adat koto nan salapan
Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Nagari Koto Nan Salapan
Pada tanggal 18 sampai 25 Mei 1915 telah bersidang kerapatan adat
Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Nagari Koto Nan Salapan, yang dipimpin
oleh
Pucuk Bulek Urek Tunggang nagari itu. Kedua kerapatan ini adalah atas perintah kepala pemerintah di Painan,
Asisten Residen kepada
Demang Painan,
Si Musa Ibrahim yang disampaikan pada
Asisten Demang Bayang, Sutan Tahar Baharuddin dan kepada Tarumun gelar Datuk Maharajo Sutan, bekas guru pensiunan yang berasal dari Kinari dan
diterima oleh pimpinan kerapatan adat Bayang Nan Tujuh Koto, Datuk
Setia, penghulu pucuk bulek urek tunggang Bayang Nan Tujuh Koto dan
kepala pimpinan kerapatan adat Koto Nan Salapan, Datuk Bagindo Sutan
Basa, ganti penghulu Pucuk Bulek Urek Tunggang atau rajo di pulut-pulut
dan kedua kerapatan ini dihadiri oleh anggota-anggota kerapatan dan
orang tua-tua serta penghulu-penghulu yang tertua dan orang yang punya
pangkat sepanjang adat, turunannya orang empat jenis dalam Nagari Bayang
Nan Tujuh Koto dan Koto Nan Salapan. Turut hadir Demang Painan dan
Asisten Demang Bayang dan guru-guru tarumun Datuk Maharajo Sutan.
Kedua kerapatan ini dimulai pada jam yang telah ditentukan untuk membicarakan kabarnya perintah :
- Sidang pertama diadakan pada tanggal 18 sampai 20 mei 1915 di balai
panjang Koto Berapak dibawah beringin nan tigo batang. Sidang ini
dihadiri oleh anggota kerapatan adat bayang nan tujuh koto sampai ke
kapak rembai dan kandungannya, sampai ke amban (ambun) puruik yang
dipimpin oleh datuk setia. Membicarakan tentang adapt monografi baying
nan tujuh koto sampai ke kapak rembai dan kandungannya
- Sidang kedua diadakan pada tanggal 20 sampai 22 mei 1915 di
Pulut-pulut bertempat di persinggahan, di pulut-pulut sampai ke taratak
nan tigo dan koto nan tigo, dipimpin oleh datuk bagindo sutan basa, rajo
di Pulut-pulut.
Sesudah kerapatan ini dibicarakan lebih lanjut dan menyelidiki serta
meneliti secara mendalam dan menelusuri lebih jauh maka kedua
persidangan ini (menghasilkan) keputusan dengan pendapat bersama sebagai
berikut :
Keterangan
Sebagaimana keterangan yang diperdapat yang dikumpulkan dalam kedua
persidangan ini menurut sepanjang waris yang dijawat, pusaka nan
ditolong dari ninik mereka yang terdahulu dari penduduknya dan orang
yang berpangkat sepanjang adapt, berasal dari nagari kubung tigo baleh
atau koto nan tigo di darek yaitu :
- Kinari
- Muaro Paneh
- Koto Anau
Mula ninik turun ke baying
menurut sepanjang waris nan dijawat pusaka yang ditolong, dari ninik
mereka yang terdahulu atau kata yang diterima dari orang tua dan
penghulu-penghulu yang tertua di nagari baying ini, sejarahnya adalah
sebagai berikut :
- turun dari koto nan tigo di darek
- dari kinari, niniknya bergelar dt. Nan bagajobiang, suku melayu
- dari muaro paneh, niniknya dt. Bakupiah ameh, suku tanjung
- dari koto anau, niniknya dt. Nan kiramaik, suku caniago
Hingga ke lubuk silau
Mereka turun ke keuda nagari itu yaitu bayang nan tujuh koto dan
nagari nan salapan dengan penduduknya seperinduan laki-laki dan
perempuan serta penghulunya dan orangtuanya juga malin yang berempat ke
pulut-pulut dan koto nan salapan terus ke baying nan tujuh koto.
Mereka turun mula-mula mendaki ke bukit kambuik, menurun ke danau nan
dua yaitu danau diatas dan danau dibawah. Kemudian mereka meniti danau
kembar itu melereng-lereng ke rawang silimau dan berjalan terus maka
tibalah di sebuah bukit lalu mereka tinjau dari bukit it uterus kea rah
kanan, tampaklah asap orang memarun dalam lurah yang amat dalam,
sekarang disebut koto sebelas tarusan.
Setelah mereka melihat lurah itu sudah ditunggui orang mereka
berpaling kea rah kiri lalu tertuju oleh mereka sebuah bukit karang,
lantas mereka turuni bukit itu bersama-sama, sampai sekarang bukit
tempat meninjau itu bernama bukit paninjauan.
Setiba mereka di bukit karang itu maka mereka layangkan pandangan
jauh dan ditukikkan pandangan dekat maka terlihatlah oleh mereka sebuah
lurah yang amat dalam dan luas, yang dilindungi oleh bukit barisan dan
laut yang berombak-ombak. Di dalam lurah itu terlihatlah oleh mereka
bayangan padi masak.
Kemudian mereka terus menuruni lurah itu. Setiba di tempat itu mereka
lihat bayangan itu tapi bukanlah padi yang sedang masak melainkan daun
ilalang yang sudah tua. Sampai sekarang bukit yang dicalik itu bernama
bukit karang calik. Maka itulah sebabnya nagari baying diikrarkan dari
kata ‘bayangan’.
Kemudian mereka terus melereng-lereng bukit meninjau ke limau purut
sekarang sampai ke tanah tinggi yang sekarang disebut koto ranah limau
purut, asalnya dari kata ‘purut koto nan tinggi’
Dan seterusnya mereka berjalan berarah-arahan sampai ke tanah yang
sepadan dan berbatu-batu berpadat-padatan dikelilingi bukit barisan.
Disinilah mereka berpandut-pandutan. Sepandut dari muaro paneh dan
sepandut dari koto anau. Itulah sebabnya bernama pulut-pulut, berasal
dari kata ‘berpandut-pandutan’.
Karena nagari sepandut itu daerahnya amat sedikit, berbatu-batu dan
berbukit-bukit maka oleh ninik mereka sebagian dari penduduk, delapan
orang penghulu, tiga orang lainnya dan empat orang malin dikepalai oleh
seorang raja pengganti penghulu yaitu PBUT nan di darek ditinggalkan di
pulut-pulut yaitu yang dari muaro paneh dan koto anau. Yang dari kinari
tidak ditinggalkan di pulut-pulut dan itu pulalah sebabnya disebut koto
nan salapan karena delapan orang penghulu pucuknya ditinggalkan di
pulut-pulut.
Dan sebagian lagi dibawa oleh ninik mereka ke nagari baying nan tujuh
koto sekarang. Waktu mereka berjalan maka terlihat oleh mereka sebuah
lubuk yang sangat dalam. Arus lubuk itu mereka seberangi bersama-sama
dan tibalah diseberangnya. Sampai sekarang tempat itu bernama lubuk
silau, berasal dari kata menyilaukan.