Iklan Adsense
Monday, December 18, 2017
Lubuk Gambir, My Hometown
Okey, let me continue to tell the story of my hometown. The village or "kampung" of Lubuk Gambir is belong to today Kenagarian Kapelgam (abbreviation of Kapencong Lubuk Gambir) and Kenagarian Kapelgam was "pemekaran" (division) of Kenagarian Koto Berapak. Even though, Kenagarian Koto Berapak was "pemekaran" from Nagari Bayang during the colonializatio period.
In the past, Nagari Bayang was traditionally called as "Bayang Nan Tujuh" which means "Bayang onderdistrict with seven kotos - a koto means one village. Together with Koto Nan Salapan ("the Eight Kotos"), Bayang was formerly a traditional sovereignity with a leader called "Rajo" (means "king").
Starting to write in English
Many friends of mine suggested me to write some articles in English. Actually, I'd love to learn English since I was at Elementary School. I studiet it by self-thaught from old book of my elder brothers and sisters which were available on our book racking. I think that our book rack were already too lousy and I don't know whether the rack still there or not because I sheldom to get to my hometown. Many old book available there. My father also have his own book inside his old bag. Now my mid is flying to my past time, I imagine the old bag of my father, the color is brownish. What kind of my father's books? I still remember that my father has some books of tradition literature and also Islamic literature. Oh yeah.. I remember too, that above our ceiling, there was a sack contains hundred pages of Arabic written books. Perhaps, they belong to my grandmother at last time. She was a pupil of Thawalib School in my village, not the Thawalib School of Parabek, Bukittinggi.
The reading hobby of my father had influeced me to be a reader too. I was happy to listen when my father were reading his book loudly. He wore glasses when reading a book because his eyes already got minus. Many book I have read since I was child. The Indonesian Translation of Al Quran I accomplish when I was at SMP school, precisely when I was at Sikalang Village, at Brother Halim's house. He has the translated Quran. Therefore when I was start to adultery, I also request to my older brother in Jakarta to send me an Al Quran with translation too and he sent me one with Depag translation. I was very happy to received it at the time. He also bought an English Dictionary for me. He want me to be skilled in English communication in the future in order to get job easily. He wanted me to be an English Tourist guide but until now I could not reach the ambition.
I like all my English teachers since I was at SMP in Sawahlunto City. Just call their name : Bu Dartini (the student entitled her as Bu Going), Bu Upik, and other teacher that I already forgot their name. At STM, my English teacher was named Pak Doyok and Bu Yeni, the teached with Bungo Pasang Salido hometown. I thanks to all my English teachers. I hope that heavenly reward would be always flows on you.
Dear readers, I am so sorry if this my article have very bad syntax or grammar because I realize that I sheldom use my English in last few years. I need you criticism or your feedback if any mistake in this my article.
Thank you all.
Saturday, December 16, 2017
Kato Nan Ampek
1. Kato Mandaki : terhadap orang tua, mamak, paman, bibi, kakek, nenek, kakak, suami
2. Kato Malereng : terhadap ipar
3. Kato Mandata : terhadap teman sepangkat sebaya
4. Kato Manurun: terhadap istri, anak, adik, kemenakan, keponakan atau yg lebih muda
1. Kato Mandaki : kata penuh hormat sopan santun
2. Kato Malereng : kata penuh rasa segan dan rasa malu.
3. Kato Mandata : kata penuh keakraban
4. Kato Manurun : kata penuh kasih sayang dan rasa santun.
Asal Muasal LGBT
Menurut sebuah riwayat, perbuatan LGTB ini pertama kali diprakarsai oleh Iblis untuk menyesatkan manusia lebih jauh lagi dan tentunya Iblis terus menerus berusaha mencari teman untuk di neraka nantinya. Maka setelah Iblis mengajarkan manusia untuk saling bunuh dan menyembah berhala maka Iblis tak habis fikir untuk memunculkan dosa-dosa baru manusia yang mungkin tak terfikirkan oleh manusia itu sendiri tanpa ide dan inisiatif dari Iblis laknatullah.
Maka melihat kaum Sadum dan Gamurah yang sudah makmur dan mulai melupakan agama, Iblis merasa punya kesempatan untuk menjerumuskan kaum tsb semakin jauh. Awalnya penduduk Sadum Gamurah merupakan kaum yang taat dan rajib beribadah, banyak bersyukur atas anugerah dari Allah swt.
Namun anak kecil itu tidak juga tenang dan masih suka menangis karena kehilangan orang tuanya. Katanya, biasanya ayahnya suka memeluknya kalau sedang kedinginan begitu. akhirnya lelaki tsb pun menuruti permintaan anak kecil tsb.
Iblis mulai memainkan tipuannya. Ketika sedang dipeluk itu, Iblis melakukan sesuatu yg membuat syahwat si lelaki tersebut naik dan terjadilah pelecehan seksual tapi anak kecil itu malah menikmati. Hal ini menjadi kebiasaan lelaki tsb, dan terus menular menjadi kebiasaan masyarakat Sadum Gamurah termasuk para remajanya.
hari berganti hari, bulan berganti tahun, penyakit masyarakat itu semakin parah. Nabi Luth selaku tokoh agam semakin gelisah dan hampir menyerah. Ketika itulah para malaikat yang dilangit gerah melihat perilaku kaum Sadum.
Akhirul cerita, pada malam dini hari terjadi gempa dahsyat yang menjungkirbalikkan negeri yang makmur tsb.
Hikmah Penjajahan oleh Bangsa Eropa di Nusantara
NKRI lahir berkat penjajahan oleh bangsa Eropa di Nusantara selama lebih dari 400 tahun.
Seandainya tidak ada penjajahan tsb, mungkin NKRI tidak akan ada.
Berikut Negara2 yang eksis ketika penjajahan tsb:
1. Negara Pasai Aceh
2. Negara Aceh Darussalam
3. Negara Malaka
4. Negara Federasi Minangkabau (termasuk didalamnya Negara Pagaruyung dan Negara Indrapura serta negara2 kecil lainnya)
5. Negara Johor
6. Negara Riau Lingga
7. Negara Jambi
8. Negara Palembang
9. Negara Banten
10. Negara Pajajaran
11. Negara Mataram
12. Negara Banjar
13. Negara Kutai Kertanegara
14. Negara Ternate
15. Negara Tidore
16. Negara Gowa-Tallo
17. Negara Bone Wajo dll
18. Negara Bali
19. Negara Sumbawa
dan banyak negara2 kecil lainnya berbentuk kerajaan, kesultanan ataupun kedatuan.
Puluhan negara2 inilah yg kemudia bersatu melawan penjajah lalu menjadi sebuah negara yg disebut NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia
Tuesday, December 12, 2017
Cukup sudah di Fesbuk...
Status di Fesbuk sudah terhitung lagi banyaknya semenjak tahun 2009 hingga sekarang. Belum sempat untuk meninjau ulang semua status tersebut. Begitu pula sebagian besar grup-grup fesbuk sudah jarang dilihat dan ditengok.
Diantara Grup Fesbuk yang pernah dibuat:
1. Grup Jalan Tembus Bayang - Alahan Panjang (sudah tidak ditinjau lagi).
2. Grup Jalan Tembus Kambang - Muaro Labuh (sudah tidak ditinjau lagi)
3. Grup Nagari Kapelgam (sesekali masih aktif)
4. Grup Malayu Suwarnabhumi (sudah tidak sempat meninjau lagi)
5. Grup Diskusi Intelektual Sunni-Syi'ah (sempat keluar dan sekarang sudah sepi)
6. Grup Belajar Dialek dan Bahasa Minang (masih aktif tapi tidak seramai dulu lagi, anggotanya sudah puluhan ribu orang)
7. Grup Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu (pernah keluar dan sudah tidak tahu lagi perkembangannya).
Dan masih banyak grup yang terlupakan. Tapi ada salah satu Grup yang saya ikut menjadi admin utamanya adalah Grup KKDM (Kerajaan-kerajaan di Minangkabau) yang dulunya dibuat oleh Bapak Yulizal Yunus, dosen IAIN dan staf ahli Pemda Pessel juga pemilik Blog Wawasan Islam Nusantara di Wordpress. Grup ini pun sudah sepi dari diskusi karena sudah tidak ada sumber informasi yang lebih segar, hanya "memutar kaset lama" kata orang.
Demikian pula beberapa halaman fesbuk yang pernah saya buat:
1. Halaman Bahaso Minang (masih banyak peminatnya)
2. Halaman Lubuk Gambir
3. Halaman Tour de Indonesia
4. Halaman Rajo Panghulu Bandaro Sati (khusus masalah adat)
5. Halaman Syafroni Malin Marajo
6. Halaman Sjafronie Djamaloes Djosannoech
7. Halaman2 lainnya masih banyak
Sekarang saatnya untuk lebih serius di Blog Spot saja. Tiap-tiap grup dan halaman yang saya buat diatas ada latar belakang pendorongnya dan memiliki kisahnya masing-masing.
Monday, December 11, 2017
Takkan Melayu hilang di bumi
Sebagaimana fakta hari ini, bisa kita baca di berbagai sumber, buku-buku atau situs-situs internet, bisa kita ketahui bahwa Melayu itu saat ini tidak pernah disebut utuh, akan tetapi sudah berupa pecah-pecahan Melayu, ada Melayu Deli, Melayu Serdang, Melayu Riau, Melayu Jambi, Melayu Palembang, Melayu Banjar, Melayu Brunei, Melayu Semenanjung atau Melayu Malaysia. Ada juga yang menyebut Melayu Betawi. Antara satu Melayu dengan Melayu lainnya tidaklah sama atau ada perbedaan-perbedaan dari segi adat budaya, bahasa dan tentunya sejarahnya serta kerajaan-kerajaan pendukungnya. Berbeda dengan Jawa atau sebutan orang Jawa, boleh dikatakan hanya ada satu suku Jawa saja walaupun secara propinsi terbagi menjadi Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Jogja tapi mereka tetap satu Jawa dan populasinya terbanyak di Indonesia, hampir 50 persen, demikian menurut sebuah data statistik, yang kebenarannya wallahu a'lam tapi hampir dipastikan setiap pemilu atau pemilihan kepala negara selalu dimenangkan oleh orang Jawa. Begitu pula suku Sunda, hanya ada satu suku Sunda saja dan populasi mereka juga nomor dua di Indonesia.
Lalu bagaimana dengan populasi orang Melayu di Indonesia? Karena terpecah-pecah menjadi Melayu ini Melayu itu maka masing-masingnya berjumlah sekian persen saja, tidak satu suara.
Barangkali dari alasan fakta inilah kemudian orang Melayu digugah dengan sebuah slogan bahwa Melayu takkan pernah hilang dari peredaran, dari dunia ini. Melayu harus bersatu dan berusaha melestarikan budayanya. Melayu tidak boleh kehilangan jati diri budayanya. Walaupun pepatah mengatakan "dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung" namun adat budaya jangan sampai hilang.
-
Yakub yang terkenal dengan sebutan Wali Yakub, adalah Wali Nagari Koto Berapak pada masa PRRI (rentang waktu tahun 1957 hingga 1958). ...
-
Sebuah catatan sejarah Indrapura tentang Brunei Darussalam Menurut keterangan sejarah, Brunei [82] yang diberitakan berasal dari kota Varu...
-
Berikut hubungan keluarga antara Raja Malayu (Malayapura, Dharmasraya), Raja Sunda dan Raja Jawa menurut naskah Rajya Rajya i Nusantara yang...
